“Charitas et Fraternitas” – Kasih dan Persaudaraan
Awal Karya Kerasulan Katolik di Kalimantan Timur (1907)
1907
Tiga misionaris Ordo Fransiskan Kapusin tiba di desa Laham, 500 km dari Samarinda di jalur Sungai Mahakam. Mereka memulai pelayanan dengan mendirikan sekolah untuk suku Dayak setempat.
Perkembangan Gereja Katolik di Samarinda
21 Februari 1955
Pusat karya kerasulan dipindahkan ke Samarinda dengan dibentuknya Vikariat Apostolik Samarinda.
3 Januari 1961
Vikariat ditingkatkan menjadi Keuskupan Samarinda, dengan Mgr. Yacobus Romeijn MSF sebagai Uskup pertama.
Awal Karya Kesehatan Katolik
4 Mei 1963
Berdiri Balai Pengobatan “Keluarga Sutji” di kompleks Keuskupan Samarinda oleh Suster MASF.
26 Desember 1964
Didirikan Rumah Sakit Bersalin “Keluarga Suci Sumber Cinta Kasih” dengan dr. Oey Thian Tjay sebagai dokter pengawas.
3 Mei 1971
Nama diubah menjadi RSB Dirgahayu atas gagasan Mgr. Yulius A. Husin MSF bersama P. GA. Bong MSF & P. FX. Huvang Hurang MSF.
Makna “Dirgahayu” melambangkan harapan kesembuhan dan semangat pelayanan tanpa pandang bulu.
Pembentukan Yayasan
26 Desember 1974
Didirikan Yayasan Setia Budi untuk mengelola pelayanan kesehatan di bawah Keuskupan Samarinda.
RSB Dirgahayu berkembang menjadi Rumah Sakit Dirgahayu.
Lahirnya Pendidikan Keperawatan
1983
Didirikan SPK Dirgahayu Samarinda. Kepala pertama: Sr. Bonifastio Groot, MASF (1983–1995). Kepala kedua: Sr. Clara Bungai, MASF (1996–2000).
2000
SPK dikonversi menjadi Akademi Keperawatan (AKPER) Dirgahayu Samarinda melalui SK Menkes RI HK.00.061.3.0088.
2002
Izin penyelenggaraan oleh Mendiknas RI: 286/D/O/2002.
Transformasi Menjadi STIKES Dirgahayu
2017
Berubah menjadi STIKES Dirgahayu Samarinda melalui SK Menristekdikti No. 659/KPT/I/2017, memiliki 2 program studi: D-III Keperawatan & S-1 Farmasi.
16 Agustus 2022
SK 602/E/O/2022 dari Kemendikbudristek RI: Menyelenggarakan S1 Keperawatan, Profesi Ners, D-III Keperawatan, S1 Farmasi.
✨ Nilai Dasar: Charitas et Fraternitas
Semangat kasih dan persaudaraan menjiwai setiap aktivitas pendidikan dan pelayanan, membangun penghargaan dan pengertian lintas latar belakang, berakar pada spiritualitas Katolik yang terbuka dan humanis.